Suara gemercik air terdengar dari kamar mandi sebuah rumah
yang sejuk dan penuh kerukunan. Gemercik air terhenti seketika, keluarlah
seorang gadis bertubuh mungil berbalut handuk dengan rasa gembira. Hati itu
hari pertamaku masuk sekolah SMA.
Aku sudah
siap berangkat dengan dandanan yang telah ditentukan panitia MOS. Seperti
rambut ikat tiga, pakai topi dari koran, kaos kaki kanan putih dan kiri hitam,
pokoknya yang bikin orang malu. ”Belajar yang rajin biar bisa jadi orang
pinter, dan berdoalah sebelum dan sesudah belajar!” pesan mama setiap kali aku
mau berangkat sekolah.
Papa siap
mengemudikan mobilnya untuk mengantarku sekolah serta berangkat ke kantor.
Selama perjalanan aku ngoceh terus seperti burung beo, aku malu dan takut, maklum
anak baru.
Ketika aku
masuk ke kelas, aku bertemu sama Kisa teman SDku dulu. Karena sudah lama tidak
bertemu kami saling sapa dan ngobrol panjang hingga bel masuk berbunyi.
Tiga orang
panitia MOS masuk kelas kami. Kegiatan pertama perkenalan. Tiba saat giliranku
untuk mengenalkan diri, aku tampak gerogi karena belum pernah ada yang kenalku
sebelumnya kecuali Kisa, padahal saat giliran Kisa dengan percaya diri Kisa
mengenalkan dirinya tanpa basa-basi. Ketika pulang, aku cerita sama mama, mama cuma
bisa jadi pendengar karena tidak ada kesempatan untuk ngomong, soalnya aku
kalau ngomong cepet banget seperti kereta ekspres.
Kegiatan
MOS telah usai. Aku lega banget setelah selesai mengikuti MOS. Tapi ada satu
hal yang belum kuwujudkan. Aku pingin ketemu sama teman curhatku. Kami sudah
lama tidak bertemu. Dia namanya Lina, dia selalu membuatku senang saat sedih,
dia juga selalu memberi saran saatku lagi bingung.
Aku sudah
coba nelpon dia berkali-kali, tapi sepertinya rumah Lina tidak ada orang.
Sampai tujuh kali belum diangkat juga, sampai kesepuluh kali baru diangkat. Ini
kesempatanku untuk ngobrol panjang tanpa ada yang ganggu. Aku langsung ganti
baju dan menuju rumah Lina. Aku mulai cerita dari mulai liburan, pertama
sekolah, sampai teman-teman baruku. Biasa deh Lina jadi pendengar.
Gantian
Lina mau cerita, aku sudah janji tidak ngomentari sebelum ditanya. ”Ditembak!!”
teriakku karena kaget. Ternyata Lina ditembak. Aku langsung nanya ciri-ciri
orang itu. Katanya sih lumayan cakep tapi…sedikit bodooh, gayanya brandalan
lagi dan yang palin penting kalau sekolah sering bolos. Aku langsung ngomong
nggak setuju soalnya orang seperti itu orang nggak bener.
Dari pada
bete terus di rumah, aku ngajak Lina jalan-jalan di taman. Sebenarnya dia nggak
mau, karena kupaksa terus akhirnya mau juga. Di taman aku ketemu sama Rendy
teman SMPku dulu. ”Dia tambah ganteng aja!” aku muji-muji dia terus. Lina jadi
tidak punya kesempatan buat kenalan sama Rendy soalnya aku berubah jadi burung
beo lagi.
Aku sok
nanya-nanya kabarnya, alamat dan nomor HPnya(padahal sih sudah tahu) lengkap
deh pokoknya. Kebetulan hobi kita sama, yaitu bulutangkis. Sejak saat itu aku
sama Rendy jadi sering ketemu. Kita jadi tambah akrab aja lho.
Aku
merasakan ada suatu rasa yang berbeda dari sebelumnya, sejak bertemu sama
Rendy. Kali ini aku cerita dengan tenang dan tidak cepat. Kisa dan Lina tidak
percaya, karena seorang seperti aku bisa jatuh cinta. ”Aku suka sama Rendy..!”
kalimat itu yang keluar dari mulut kecilku.
Rasa itu
kupendam dalam hati kurang lebih enam bulan. Sejak ada rasa itu sikapku berubah
drastis kepada semua orang, terutama Rendy. ”Lho kok berubah banget Din, ada
apa sih?” kalimat itu sering kudengar dari teman-teman, orangtua, bahkan Rendy.
Sekarang
aku jadi sering melamun dan menyendiri. Tapi sifat cerewetku tidak hilang,
melainkan tambah cerewet.
Rasa itu
rasa cinta yang sangat kuat. Tidak dapat dihilangkan lagi. Mungkin itu cinta
sejati. Memang apa sih cinta sejati itu? Kaya tahu maknanya saja.
Aku jadi
sering curhat sama Lina. Sudah pasti membahas Rendy. Lina bosan dengarnya.
Rendy itu keren, cakep, manis, juga hebat. Apalagi kalau lagi main gitar,
wow..hebat banget! Jadi pingin diajari.
Sayang
banget, jadwal Rendy lebih padat. Jadi waktu untuk bertemu aku juga
teman-temannya lebih singkat. Duh..! sungguh malang nasibku.
Suatu hari
di sekolah, salah seorang teman Kisa manggil-manggil aku seperti kesetanan. Aku
langsung saja nyamperin. Ternyata cuma mastiin saja kalau namaku Dinda. Aku
kesel banget, soalnya masih banyak tugas yang belum kukerjakan.
Nanti malam
tahun baru. Aku sama Lina sudah punya rencana. Aku mau nembak Rendy. Tapi Rendy
punya rencana sendiri sama teman-temannya. Sial banget sih nasibku. Akhirnya
aku nitip surat
sama Lina untuk Rendy. Soalnya aku mau pergi ke Pekalongan.
Surat sudah dibaca sama
Rendy. Rendy tidak menyangka kalau aku suka dirinya. Langsung saja Rendy
mengirim pesan singkat lewat SMS untukku ”Sorry Din, gue nggak bisa nrima loe,
gue blm siap.”. Hatiku hancur berkeping-keping setelah baca pesan itu.
Karena
pesan itu pula persahabatan kita semua jadi renggang. Suatu hari aku mendengar
berita bahwa Rendy suka sama seseorang. Tapi anak itu tidak suka karena sifat
Rendy yang dingin. Mendengar semua itu hatiku tambah hancur.
Setahun
telah berlalu. Tepat malam valentine, aku ditembak sama seorang cowok namanya
Dimas. Dia satu kelas sama aku. Aku jadi teringat tahun baru kemarin, saat aku
patah hati. Lewat kertas kecil yang bertulis ”I LOVE YOU too from DIMAS”. Aku
nangis tersedu.
Dua hari
setelah valentine Dimas mengutarakan cintanya padaku di depan teman-teman.
Dengan jawabanku yang singkat, Dimas merasa kurang tenang. Dimas mengutus
beberapa orang untuk selalu mengawasiku selama tiga hari. Baik di sekolah
maupun di rumah. Bahkan saat tidur malam. Sampai yang ngawasi begadang.
Hari kedua
mata-mata Dimas tertangkap basah di sekolah sedang ngupingin aku sama Kisa
curhat masalah Rendy. Mata-mata itu kuhakimi dan dia mau jujur juga. Dimas yang
lagi enak makan bakso di kantin langsung aku omelin. Dimas merasa malu dan
mengakui kesalahannya.
Hari itu
juga aku memberikan jawabannya. Aku sebenarnya suka sama Dimas karena terpaksa.
Soalnya Dimas itu…lumayan tajirlah. Mendengar itu Dimas kegirangan dan
mentraktir semua orang yang ada di kantin untuk makan sepuasnya.
Aku belum bisa menerima Dimas
begitu saja. Aku masih cinta sama Rendy. Walaupun Rendy mencintai cewek lain
yang lebih tajir dariku. Tidak Dimas tidak Rendy kalau mereka bertemu aku
merasa malu dan pura-pura tidak tahu. Sejak aku pacaran sama Dimas tidak ada
yang tahu nasib Rendy sekarang. Kita sudah tidak pernah bertemu lagi. Apalagi
ngobrol bareng. Apa Rendy masih ngejar-ngejar cewek itu? Mungkin saja gitu.
*)ekspresi cinta.