Aloha =D
This story masih
ada kaitannya sama postingan gue kemarin mengenai cinta. Sebenarnya sih udah
mainstream but, berhubung gue bored ngehabisin waktu selama liburan iseng aja
deh bikin cerpen. Semoga kalian suka ;;) enjoyed!
Daun-daun
terus berterbangan karena tertiup angin kencang, seperti akan menjadi badai.
Tidak ada satupun orang yang berani keluar rumah. Dari awan turun rintik-rintik
air yang tak lama kemudian turun lebih deras menjadi hujan lebat yang diiringi
suara gemuruh guntur
dan kilatan petir. Suasana lebih mencekam ketika listrik padam.
Reina yang sendiri di rumah merasa
takut, penyakit lamanya kambuh. Reina merasa pusing and finally…jatuh
tergeletak di atas kasur dan tak sadarkan diri.
Di luar rumah masih hujan deras dan angin
semakin kencang sehingga percikan air hujan masuk lewat ventilasi jendela yang
tak tertutup gorden. Percikan air itu mengenai wajah Reina hingga ia tersadar.
Dengan kepalanya yang masih pusing, Reina menutup gorden jendela kemudian
berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Malam itu Reina tidak bisa tidur, ia
mengkhawatirkan keluarganya yang berada di luar kota
jauh dari kota
yang ia tinggali sekarang.
“Mah, Pah. Kapan kalian pulang? Aku
takut sendirian terus di rumah.” Reina terus bergumam agar orangtuanya pulang
malam ini juga.
Di sekolah Reina tidak dapat konsen
terhadap pelajaran. Reina terus menguapkan mulutnya hingga lebar *yawn. BRUK!!
Reina kaget mendengar suara gebrakan mejanya. Faya seorang temannya mengajak
untuk segera pulang.
“Dari tadi kok lo nguap-nguap terus,
lo kurang tidur?” Reina hanya mengangguk, kemudian pulang dan terus berjalan ke
rumahnya yang tak jauh dari sekolah.
“Gue pulang dulu Fay!” Reina menyapa
Faya sambil membuka pintu depan.
Sejak sore langit memang sudah
mendung, tetapi tak seperti kemarin yang diiringi dengan angin kencang. Reina
masih sendirian di rumah berniat untuk menginap di rumah Fay.
“Boleh kagak gue nginep di rumah lo
semalam aja? Gue takut sendirian di rumah. Boleh yaa please!” Reina terus merengek
minta Fay untuk mengizinkan ia menginap.
“Lo boleh nginep di sini kapan aja lo
mau, rumah gue selalu terbuka buat lo”, Fay tidak keberatan jika Reina menginap di
rumahnya. Fay memang bestie Reina sejak kecil. Dari dulu mereka aku banget.
****
Pembagian tugas telah selesai, Faya,
Reina, Dias, dan Aga merupakan satu kelompok. Fay dan Aga bertugas mencari data
dan informasi, sedangkan Reina dan Dias menyeleksi dan menambahkan sedikit
informasi yang mereka dapat.
“Kenapa gue ngerasa aneh gini, kok gue
jadi gerogi, apa penyakit gue kambuh?” Reina terus bertanya-tanya dalam
dirinya. Setelah tugas selesai, Dias segera mengumpulkan tugas tersebut kepada
pembimbing.
Tiga hari setelah itu tak sengaja
Reina duduk tepat di sebelah Dias. Reina menatap Dias dengan mata yang
bersinar, hingga kemudian Dias menoleh ke arah Reina. Tiap kali ia melihat,
memandang dan duduk bersebelahan dengan Dias ia merasa ada hal aneh yang sama
seperti saat mengerjakan tugas kelompok kemarin.
“Fay, gue mau nanya sama lo. Kenapa
tiap kali ada Dias gue ngerasa ada hal aneh, kenapa ya?”
“Cieee jatuh cinta keles!”
“Apaan sih nggak mungkin tau! Dia kan bukan tipe gue.” Fay
hanya senyum-senyum melihat bestienya yang masih merasakan betapa indahnya saat
jatuh cinta.
****
Seekor kadal tengah berjalan sendiri
seperti sedang mencari makan or mencari teman yang meninggalkannya. Sepi, tak
ada satupun orang lewat di jalan itu. Dias yang melihat kadal tersebut bertanya
pada Reina yang berjalan di belakangnya.
“Re, lo liat kadal itu kan, kenapa dia
sendirian?” Reina mendekati Dias kemudian mengangguk. “Mungkin cari temannya
atau…” belum selesai Reina bicara tapi Dias memotongnya. “Maybe cari makanan!”
Mereka berdua terus membicarakan soal
kadal tersebut. Namun kadal itu seketika menghilang sehingga mereka berhenti
membicarakan seekor kadal. Kemudian mereka berjalan menuju rumah masing-masing.
Itulah jalan yang sering di tempuh Reina ketika pulang sekolah. Reina
senyum-senyum sendiri ketika mengingat kejadian tadi siang.
Esok pagi di sekolah suasana kelas
Reina gempar. Dias salah satu penghuni kelas tersebut akan pindah keluar Jawa
ikut ayahnya yang ditugaskan ke Sumatera.
“Re! Kabar buruk Re, kabar buruk!”
Faya berlari menghampiri Reina yang baru masuk kelas. Fay menceritakan semua
tentang Dias. Reina kaget, namun dia masih diam.
“Lo kok nggak sedih Re? Lo kan suka doi.” Reina
tetap terbungkam tidak menjawab pertanyaan Fay. Setelah meletakkan tas, Reina
kemudian keluar kelas dan duduk di koridor sekolah.
“Jangan diem aja dong! Lo sedih kan?” Fay terus
bertanya. “Gue gapapa kok.” Reina menjawab dengan lemas.
Namun di dalam hati Reina masih sedih.
Reina belum sempat tau gimana perasaan Dias terhadapnya. Reina berjanji jika
Dias telah pulang nanti dia akan mengatakan semua isi hatinya kepada Dias
walaupun itu akan memalukan dirinya. Bukannya Reina muka tembok but, Dias
merupakan orang pertama yang mampu membuka pintu hatinya bisa dibilang First
Love. Sejak dia kenal Dias, Reina tidak pernah merasa kesepian seperti dulu.
To be continued














