Jumat, 27 Desember 2013

Lorong Dimensi (Tuhan, apakah ini cinta?)



Aloha =D

This story masih ada kaitannya sama postingan gue kemarin mengenai cinta. Sebenarnya sih udah mainstream but, berhubung gue bored ngehabisin waktu selama liburan iseng aja deh bikin cerpen. Semoga kalian suka ;;) enjoyed!


Daun-daun terus berterbangan karena tertiup angin kencang, seperti akan menjadi badai. Tidak ada satupun orang yang berani keluar rumah. Dari awan turun rintik-rintik air yang tak lama kemudian turun lebih deras menjadi hujan lebat yang diiringi suara gemuruh guntur dan kilatan petir. Suasana lebih mencekam ketika listrik padam.
          Reina yang sendiri di rumah merasa takut, penyakit lamanya kambuh. Reina merasa pusing and finally…jatuh tergeletak di atas kasur dan tak sadarkan diri.
          Di luar rumah masih hujan deras dan angin semakin kencang sehingga percikan air hujan masuk lewat ventilasi jendela yang tak tertutup gorden. Percikan air itu mengenai wajah Reina hingga ia tersadar. Dengan kepalanya yang masih pusing, Reina menutup gorden jendela kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
         
          Malam itu Reina tidak bisa tidur, ia mengkhawatirkan keluarganya yang berada di luar kota jauh dari kota yang ia tinggali sekarang.
          “Mah, Pah. Kapan kalian pulang? Aku takut sendirian terus di rumah.” Reina terus bergumam agar orangtuanya pulang malam ini juga.
          Di sekolah Reina tidak dapat konsen terhadap pelajaran. Reina terus menguapkan mulutnya hingga lebar *yawn. BRUK!! Reina kaget mendengar suara gebrakan mejanya. Faya seorang temannya mengajak untuk segera pulang.
          “Dari tadi kok lo nguap-nguap terus, lo kurang tidur?” Reina hanya mengangguk, kemudian pulang dan terus berjalan ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah.
          “Gue pulang dulu Fay!” Reina menyapa Faya sambil membuka pintu depan.

          Sejak sore langit memang sudah mendung, tetapi tak seperti kemarin yang diiringi dengan angin kencang. Reina masih sendirian di rumah berniat untuk menginap di rumah Fay.
          “Boleh kagak gue nginep di rumah lo semalam aja? Gue takut sendirian di rumah. Boleh yaa please!” Reina terus merengek minta Fay untuk mengizinkan ia menginap.
          “Lo boleh nginep di sini kapan aja lo mau, rumah gue selalu terbuka buat lo”,  Fay tidak keberatan jika Reina menginap di rumahnya. Fay memang bestie Reina sejak kecil. Dari dulu mereka aku banget.
****
          Pembagian tugas telah selesai, Faya, Reina, Dias, dan Aga merupakan satu kelompok. Fay dan Aga bertugas mencari data dan informasi, sedangkan Reina dan Dias menyeleksi dan menambahkan sedikit informasi yang mereka dapat.
          “Kenapa gue ngerasa aneh gini, kok gue jadi gerogi, apa penyakit gue kambuh?” Reina terus bertanya-tanya dalam dirinya. Setelah tugas selesai, Dias segera mengumpulkan tugas tersebut kepada pembimbing.
          Tiga hari setelah itu tak sengaja Reina duduk tepat di sebelah Dias. Reina menatap Dias dengan mata yang bersinar, hingga kemudian Dias menoleh ke arah Reina. Tiap kali ia melihat, memandang dan duduk bersebelahan dengan Dias ia merasa ada hal aneh yang sama seperti saat mengerjakan tugas kelompok kemarin.
          “Fay, gue mau nanya sama lo. Kenapa tiap kali ada Dias gue ngerasa ada hal aneh, kenapa ya?”
          “Cieee jatuh cinta keles!”
          “Apaan sih nggak mungkin tau! Dia kan bukan tipe gue.” Fay hanya senyum-senyum melihat bestienya yang masih merasakan betapa indahnya saat jatuh cinta.
****

          Seekor kadal tengah berjalan sendiri seperti sedang mencari makan or mencari teman yang meninggalkannya. Sepi, tak ada satupun orang lewat di jalan itu. Dias yang melihat kadal tersebut bertanya pada Reina yang berjalan di belakangnya.
          “Re, lo liat kadal itu kan, kenapa dia sendirian?” Reina mendekati Dias kemudian mengangguk. “Mungkin cari temannya atau…” belum selesai Reina bicara tapi Dias memotongnya. “Maybe cari makanan!”
          Mereka berdua terus membicarakan soal kadal tersebut. Namun kadal itu seketika menghilang sehingga mereka berhenti membicarakan seekor kadal. Kemudian mereka berjalan menuju rumah masing-masing. Itulah jalan yang sering di tempuh Reina ketika pulang sekolah. Reina senyum-senyum sendiri ketika mengingat kejadian tadi siang.
          Esok pagi di sekolah suasana kelas Reina gempar. Dias salah satu penghuni kelas tersebut akan pindah keluar Jawa ikut ayahnya yang ditugaskan ke Sumatera.
          “Re! Kabar buruk Re, kabar buruk!” Faya berlari menghampiri Reina yang baru masuk kelas. Fay menceritakan semua tentang Dias. Reina kaget, namun dia masih diam.
          “Lo kok nggak sedih Re? Lo kan suka doi.” Reina tetap terbungkam tidak menjawab pertanyaan Fay. Setelah meletakkan tas, Reina kemudian keluar kelas dan duduk di koridor sekolah.
          “Jangan diem aja dong! Lo sedih kan?” Fay terus bertanya. “Gue gapapa kok.” Reina menjawab dengan lemas.
          Namun di dalam hati Reina masih sedih. Reina belum sempat tau gimana perasaan Dias terhadapnya. Reina berjanji jika Dias telah pulang nanti dia akan mengatakan semua isi hatinya kepada Dias walaupun itu akan memalukan dirinya. Bukannya Reina muka tembok but, Dias merupakan orang pertama yang mampu membuka pintu hatinya bisa dibilang First Love. Sejak dia kenal Dias, Reina tidak pernah merasa kesepian seperti dulu.
To be continued

It’s story gue adaptasi dari kisah hidup someone yang telah gue sunting sedikit muehehe.-. Don’t forget bray! Tinggalkan reaksi or comment di bawah ini yaa ;)

0 komentar:

Posting Komentar