Waktu
terus berlalu, lembaran demi lembaran telah dilalui. Coretan demi coretan telah
memenuhi, kadang tak berarti, kadang tanpa makna, atau hanya sedikit makna.
Semoga di tahun ini setiap lembaran memiliki makna, setiap lembaran bermanfaat.
Yesterday is history, today is reality, tomorrow's a mystery. Happy New Year!
Seiring dengan perginya kenangan dan menyambut harapan. Selamat tinggal
kenangan, selamat datang harapan.
Tahun baru merupakan moment yang
istimewa, selain pergantian tahun, tahun baru juga sering diibaratkan sebagai
titik kaleidoskopik pencapaian selama satu tahun penuh. Momen Tahun Baru akan
terasa semakin istimewa dengan hadirnya orang-orang spesial di sekitar kita,
seperti keluarga, teman bahkan kekasih.
lanjutan
Nggak terasa 2 tahun sudah berlalu.
Seragam yang dipake Reinapun berganti warna menjadi putih abu-abu. Reina
ngerasa bahwa dirinya udah menginjak masa remaja, yang berarti pikirannya mesti
dirubah lebih dewasa lagi. Kini Reina dan Faya masih satu sekolah. Putar kanan,
putar kiri, maju, mundur. “Sip!” Reina mematut diri di cermin sambil bernyanyi.
I'm 15 for a
moment
Caught in between 10 and 20
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are
Caught in between 10 and 20
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are
Semuanya
sudah lengkap. Bahkan sudah diperiksa berulang kali. Reina meraih tas
sekolahnya. Kemudian bergegas berangkat sekolah.
*SKIPTHISDAY*
Malam
itu, gerimis masih memayungi kota
ini. Mendung gelappun masih menyelimuti, hingga dingin yang terasa. Matahari
seakan terbungkus mega yang muram, air langitpun masih menitik disela-sela
dedaunan. Reina dan Faya masih berada di sebuah coffee been. Mereka memesan
starbucks dan duduk dibangku disudut ruangan dekat dengan pintu kaca, sengaja
mereka pilih karena ingin menikmati hadiah terindah dari-Nya "hujan".
(5 minute later)
“Pulang
aja yuk, lagian udah sepi.” Reina mengajak teman dekatnya untuk segera pulang.
Hujan semakin deras. Disaat Fay membuka pintu depan rumahnya tiba-tiba
terdengar suara yang begitu kencang, dan ternyata Reina tertabrak mobil. Ketika
Reina ingin menyebrang, Reina tidak mendengar suara klakson mobil, dia tidak
melihat ke kanan maupun ke kiri, pandangannya tiba-tiba kosong dan pudar karena
penyakitnya kambuh lagi.
“Re, kamu sudah
bangun sayang? Ini mama, nak!” Reina membuka matanya perlahan-lahan, matanya
memfokuskan pandangannya yang menyapu seisi ruangan.
“Mah, aku dimana?”
“Kamu dirumah sakit sayang, kamu kecelakaan. Untung saja orang yang nabrak kamu tanggung jawab.” kata mama panjang lebar sambil mengelus rambut Reina.
“Nah, itu dia orangnya datang!”
“Mah, aku dimana?”
“Kamu dirumah sakit sayang, kamu kecelakaan. Untung saja orang yang nabrak kamu tanggung jawab.” kata mama panjang lebar sambil mengelus rambut Reina.
“Nah, itu dia orangnya datang!”
“Lelaki ini, raut
wajahnya sangat mirip dengan Dias” kata Reina dalam hati. Mama Reina
meninggalkan Reina berdua dengan pemuda itu.
“Morning, gimana
keadaan lo? Sudah baikkan? Maaf ya, gue nggak sengaja nabrak lo, diposisi itu
gue juga salah, karna gue nggak liat lo nyebrang jalan. Untung aja lo nggak
terluka parah, kalau iya gue sangat menyesal telah membuat gadis semanis lo
terluka” pemuda itu menyunggingkan bibir tipisnya itu membuat Reina terpana dan
salah tingkah. Reina tidak terlalu mendengarkan omongan pemuda nan tampan itu, dia
fokus dengan wajahnya yang putih bersih tanpa noda jerawat sedikit pun.
Perfecto!
“Hei, kok diem?” Reina langsung menurunkan sikap saltingnya itu, agar tidak ketahuan.
“Oh, maaf! Gue juga salah nyebrang gak liat-liat” kata Reina yang tidak berhenti salting, karena tatapan pemuda itu berhasil membuat jantungnya berdetak cepat.
“Hei, kok diem?” Reina langsung menurunkan sikap saltingnya itu, agar tidak ketahuan.
“Oh, maaf! Gue juga salah nyebrang gak liat-liat” kata Reina yang tidak berhenti salting, karena tatapan pemuda itu berhasil membuat jantungnya berdetak cepat.
“By the way,
perkenalkan gue Dias Dirgantara. Nama lo siapa?” Duaarrrr Reina shock bukan
main, dia tidak menyangka pemuda ini beneran Dias.
“Ahh ?? Gue, Reina
Putri.” Bulir air mata mulai mengalir dari pelupuk mata Reina, merekapun saling
menatap.
“Hmm gue boleh
minta nomer ponsel lo?” Segera Reina mengambil secarcik kertas dan menuliskan
nomor ponselnya dengan cermat, dia takut menuliskan nomer ponsel yang salah. Beberapa
saat kemudian,
“Re?” Dias memegang tangan Reina dengan pelan.
“Eh iyaa”
“Gue seneng ketemu lo lagi.”
“Gue juga seneng bisa ketemu lo”
Mereka berduapun tertawa lepas. Mereka sangat bahagia, setelah 2 tahun tak bertemu, akhirnya sekarang mereka bisa saling menatap satu sama lain.
“Re?” Dias memegang tangan Reina dengan pelan.
“Eh iyaa”
“Gue seneng ketemu lo lagi.”
“Gue juga seneng bisa ketemu lo”
Mereka berduapun tertawa lepas. Mereka sangat bahagia, setelah 2 tahun tak bertemu, akhirnya sekarang mereka bisa saling menatap satu sama lain.
“Toook tok tokk”
Dias membuka pintu itu tanpa perintah Reina. ”Mungkin itu mama” pikir Reina.
Ternyata pikiran Reina meleset, yang datang itu bukan mama, tapi Fay.
“Ree!!! Lo
baik-baik aja kan?”
Fay yang baru datang langsung memeluk sahabat karibnya itu tanpa canggung.
“Ciee udah sekian
lama akhirnya lo ketemu crush lo juga :p”
”Apaan sih lo Fay, resek banget.”
”Apaan sih lo Fay, resek banget.”
Cahaya
matahari pagi menembus jendela ruang inap Reina. Setelah 2 hari Reina menginap
di rumah sakit, akhirnya dia diperbolehkan pulang. Sesampainya di rumah Reina
langsung istirahat dikamarnya untuk memulihkan tenaganya.
*SKIPTHISDAY*
*phone vibrates*
Reina get excited, Dia langsung ganti baju dan dandan setelah membaca message
dari Dias. “Re, temui gue di danau. Gue tunggu kehadiran lo.”
Reina segera
menemui Dias. Dia berlari-lari kecil, dia tidak mau Dias menunggu terlalu lama.
Dia penasaran mengapa dia mengirim sms? Setiba di danau, Reina melihat cowok
berkaos abu-abu yang sedang mondar-mandir, mungkin dia gelisah menunggu
kehadiran Reina.
“Hey! Sorry
ngebuat lo nunggu lama.”
“Gapapa kok. Hmm
Re, aku boleh ngomongong sesuatu?” kata Dias ragu.
Jantung Reina
berdesir cepat ketika Dias menggenggam erat tangannya. Dia merasakan aliran
darahnya berjalan cepat, keringatnya mulai mengucur, entah apa yang akan Dias
lakukan.
“Re, semenjak kenal lo di SMP, gue ngerasa hidup gue lebih berwarna. Gue merasakan ada hal yang aneh saat bertemu lo, bahkan kalau gue nggak ketemu lo, gue merasa ada yang hilang dalam diri gue. Gue jatuh cinta sama lo Re! Lo mau jadi pacar gue kan?”
“Re, semenjak kenal lo di SMP, gue ngerasa hidup gue lebih berwarna. Gue merasakan ada hal yang aneh saat bertemu lo, bahkan kalau gue nggak ketemu lo, gue merasa ada yang hilang dalam diri gue. Gue jatuh cinta sama lo Re! Lo mau jadi pacar gue kan?”
“…” Reina terdiam,
dan, “Dias!! Gue juga sayang lo, dan Gue mau jadi pacar lo!!” Reina berteriak
sekenceng-kencengnya. Mereka berpelukan untuk menghilangkan rasa kangen mereka,
tiba-tiba langitpun gelap, tapi tidak dengan hari mereka berdua. Tetes-tetes
air hujan jatuh membasahi bumi. Mungkin langit sedang menangis karena bahagia
melihat Reina yang sudah menemukan cintanya, yaitu Dias Dirgantara.
To be continued

0 komentar:
Posting Komentar