Rabu, 01 Januari 2014

Lorong Dimensi (Janji Setia Dua Tahun Silam)



Waktu terus berlalu, lembaran demi lembaran telah dilalui. Coretan demi coretan telah memenuhi, kadang tak berarti, kadang tanpa makna, atau hanya sedikit makna. Semoga di tahun ini setiap lembaran memiliki makna, setiap lembaran bermanfaat. Yesterday is history, today is reality, tomorrow's a mystery. Happy New Year! Seiring dengan perginya kenangan dan menyambut harapan. Selamat tinggal kenangan, selamat datang harapan.

          Tahun baru merupakan moment yang istimewa, selain pergantian tahun, tahun baru juga sering diibaratkan sebagai titik kaleidoskopik pencapaian selama satu tahun penuh. Momen Tahun Baru akan terasa semakin istimewa dengan hadirnya orang-orang spesial di sekitar kita, seperti keluarga, teman bahkan kekasih.


lanjutan

          Nggak terasa 2 tahun sudah berlalu. Seragam yang dipake Reinapun berganti warna menjadi putih abu-abu. Reina ngerasa bahwa dirinya udah menginjak masa remaja, yang berarti pikirannya mesti dirubah lebih dewasa lagi. Kini Reina dan Faya masih satu sekolah. Putar kanan, putar kiri, maju, mundur. “Sip!” Reina mematut diri di cermin sambil bernyanyi.

I'm 15 for a moment
Caught in between 10 and 20
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are

Semuanya sudah lengkap. Bahkan sudah diperiksa berulang kali. Reina meraih tas sekolahnya. Kemudian bergegas berangkat sekolah.

*SKIPTHISDAY*
Malam itu, gerimis masih memayungi kota ini. Mendung gelappun masih menyelimuti, hingga dingin yang terasa. Matahari seakan terbungkus mega yang muram, air langitpun masih menitik disela-sela dedaunan. Reina dan Faya masih berada di sebuah coffee been. Mereka memesan starbucks dan duduk dibangku disudut ruangan dekat dengan pintu kaca, sengaja mereka pilih karena ingin menikmati hadiah terindah dari-Nya "hujan".

(5 minute later)
“Pulang aja yuk, lagian udah sepi.” Reina mengajak teman dekatnya untuk segera pulang. Hujan semakin deras. Disaat Fay membuka pintu depan rumahnya tiba-tiba terdengar suara yang begitu kencang, dan ternyata Reina tertabrak mobil. Ketika Reina ingin menyebrang, Reina tidak mendengar suara klakson mobil, dia tidak melihat ke kanan maupun ke kiri, pandangannya tiba-tiba kosong dan pudar karena penyakitnya kambuh lagi.
“Re, kamu sudah bangun sayang? Ini mama, nak!” Reina membuka matanya perlahan-lahan, matanya memfokuskan pandangannya yang menyapu seisi ruangan.
“Mah, aku dimana?”
“Kamu dirumah sakit sayang, kamu kecelakaan. Untung saja orang yang nabrak kamu tanggung jawab.” kata mama panjang lebar sambil mengelus rambut Reina.
“Nah, itu dia orangnya datang!”
“Lelaki ini, raut wajahnya sangat mirip dengan Dias” kata Reina dalam hati. Mama Reina meninggalkan Reina berdua dengan pemuda itu.
“Morning, gimana keadaan lo? Sudah baikkan? Maaf ya, gue nggak sengaja nabrak lo, diposisi itu gue juga salah, karna gue nggak liat lo nyebrang jalan. Untung aja lo nggak terluka parah, kalau iya gue sangat menyesal telah membuat gadis semanis lo terluka” pemuda itu menyunggingkan bibir tipisnya itu membuat Reina terpana dan salah tingkah. Reina tidak terlalu mendengarkan omongan pemuda nan tampan itu, dia fokus dengan wajahnya yang putih bersih tanpa noda jerawat sedikit pun. Perfecto!
“Hei, kok diem?” Reina langsung menurunkan sikap saltingnya itu, agar tidak ketahuan.
“Oh, maaf! Gue juga salah nyebrang gak liat-liat” kata Reina yang tidak berhenti salting, karena tatapan pemuda itu berhasil membuat jantungnya berdetak cepat.
“By the way, perkenalkan gue Dias Dirgantara. Nama lo siapa?” Duaarrrr Reina shock bukan main, dia tidak menyangka pemuda ini beneran Dias.
“Ahh ?? Gue, Reina Putri.” Bulir air mata mulai mengalir dari pelupuk mata Reina, merekapun saling menatap.
“Hmm gue boleh minta nomer ponsel lo?” Segera Reina mengambil secarcik kertas dan menuliskan nomor ponselnya dengan cermat, dia takut menuliskan nomer ponsel yang salah. Beberapa saat kemudian,
“Re?” Dias memegang tangan Reina dengan pelan.
“Eh iyaa”
“Gue seneng ketemu lo lagi.”
“Gue juga seneng bisa ketemu lo”
Mereka berduapun tertawa lepas. Mereka sangat bahagia, setelah 2 tahun tak bertemu, akhirnya sekarang mereka bisa saling menatap satu sama lain.
“Toook tok tokk” Dias membuka pintu itu tanpa perintah Reina. ”Mungkin itu mama” pikir Reina. Ternyata pikiran Reina meleset, yang datang itu bukan mama, tapi Fay.
“Ree!!! Lo baik-baik aja kan?” Fay yang baru datang langsung memeluk sahabat karibnya itu tanpa canggung.
“Ciee udah sekian lama akhirnya lo ketemu crush lo juga :p”
”Apaan sih lo Fay, resek banget.”

Cahaya matahari pagi menembus jendela ruang inap Reina. Setelah 2 hari Reina menginap di rumah sakit, akhirnya dia diperbolehkan pulang. Sesampainya di rumah Reina langsung istirahat dikamarnya untuk memulihkan tenaganya.


*SKIPTHISDAY*
*phone vibrates* Reina get excited, Dia langsung ganti baju dan dandan setelah membaca message dari Dias. “Re, temui gue di danau. Gue tunggu kehadiran lo.”
Reina segera menemui Dias. Dia berlari-lari kecil, dia tidak mau Dias menunggu terlalu lama. Dia penasaran mengapa dia mengirim sms? Setiba di danau, Reina melihat cowok berkaos abu-abu yang sedang mondar-mandir, mungkin dia gelisah menunggu kehadiran Reina.
“Hey! Sorry ngebuat lo nunggu lama.”
“Gapapa kok. Hmm Re, aku boleh ngomongong sesuatu?” kata Dias ragu.
Jantung Reina berdesir cepat ketika Dias menggenggam erat tangannya. Dia merasakan aliran darahnya berjalan cepat, keringatnya mulai mengucur, entah apa yang akan Dias lakukan.
“Re, semenjak kenal lo di SMP, gue ngerasa hidup gue lebih berwarna. Gue merasakan ada hal yang aneh saat bertemu lo, bahkan kalau gue nggak ketemu lo, gue merasa ada yang hilang dalam diri gue. Gue jatuh cinta sama lo Re! Lo mau jadi pacar gue kan?”
“…” Reina terdiam, dan, “Dias!! Gue juga sayang lo, dan Gue mau jadi pacar lo!!” Reina berteriak sekenceng-kencengnya. Mereka berpelukan untuk menghilangkan rasa kangen mereka, tiba-tiba langitpun gelap, tapi tidak dengan hari mereka berdua. Tetes-tetes air hujan jatuh membasahi bumi. Mungkin langit sedang menangis karena bahagia melihat Reina yang sudah menemukan cintanya, yaitu Dias Dirgantara.

To be continued

         

0 komentar:

Posting Komentar