Kamis, 23 Agustus 2012

LOVE-X-PRECIA!!!



            Suara gemercik air terdengar dari kamar mandi sebuah rumah yang sejuk dan penuh kerukunan. Gemercik air terhenti seketika, keluarlah seorang gadis bertubuh mungil berbalut handuk dengan rasa gembira. Hati itu hari pertamaku masuk sekolah SMA.
            Aku sudah siap berangkat dengan dandanan yang telah ditentukan panitia MOS. Seperti rambut ikat tiga, pakai topi dari koran, kaos kaki kanan putih dan kiri hitam, pokoknya yang bikin orang malu. ”Belajar yang rajin biar bisa jadi orang pinter, dan berdoalah sebelum dan sesudah belajar!” pesan mama setiap kali aku mau berangkat sekolah.
            Papa siap mengemudikan mobilnya untuk mengantarku sekolah serta berangkat ke kantor. Selama perjalanan aku ngoceh terus seperti burung beo, aku malu dan takut, maklum anak baru.
            Ketika aku masuk ke kelas, aku bertemu sama Kisa teman SDku dulu. Karena sudah lama tidak bertemu kami saling sapa dan ngobrol panjang hingga bel masuk berbunyi.
            Tiga orang panitia MOS masuk kelas kami. Kegiatan pertama perkenalan. Tiba saat giliranku untuk mengenalkan diri, aku tampak gerogi karena belum pernah ada yang kenalku sebelumnya kecuali Kisa, padahal saat giliran Kisa dengan percaya diri Kisa mengenalkan dirinya tanpa basa-basi. Ketika pulang, aku cerita sama mama, mama cuma bisa jadi pendengar karena tidak ada kesempatan untuk ngomong, soalnya aku kalau ngomong cepet banget seperti kereta ekspres.
            Kegiatan MOS telah usai. Aku lega banget setelah selesai mengikuti MOS. Tapi ada satu hal yang belum kuwujudkan. Aku pingin ketemu sama teman curhatku. Kami sudah lama tidak bertemu. Dia namanya Lina, dia selalu membuatku senang saat sedih, dia juga selalu memberi saran saatku lagi bingung.
            Aku sudah coba nelpon dia berkali-kali, tapi sepertinya rumah Lina tidak ada orang. Sampai tujuh kali belum diangkat juga, sampai kesepuluh kali baru diangkat. Ini kesempatanku untuk ngobrol panjang tanpa ada yang ganggu. Aku langsung ganti baju dan menuju rumah Lina. Aku mulai cerita dari mulai liburan, pertama sekolah, sampai teman-teman baruku. Biasa deh Lina jadi pendengar.
            Gantian Lina mau cerita, aku sudah janji tidak ngomentari sebelum ditanya. ”Ditembak!!” teriakku karena kaget. Ternyata Lina ditembak. Aku langsung nanya ciri-ciri orang itu. Katanya sih lumayan cakep tapi…sedikit bodooh, gayanya brandalan lagi dan yang palin penting kalau sekolah sering bolos. Aku langsung ngomong nggak setuju soalnya orang seperti itu orang nggak bener.
            Dari pada bete terus di rumah, aku ngajak Lina jalan-jalan di taman. Sebenarnya dia nggak mau, karena kupaksa terus akhirnya mau juga. Di taman aku ketemu sama Rendy teman SMPku dulu. ”Dia tambah ganteng aja!” aku muji-muji dia terus. Lina jadi tidak punya kesempatan buat kenalan sama Rendy soalnya aku berubah jadi burung beo lagi.
            Aku sok nanya-nanya kabarnya, alamat dan nomor HPnya(padahal sih sudah tahu) lengkap deh pokoknya. Kebetulan hobi kita sama, yaitu bulutangkis. Sejak saat itu aku sama Rendy jadi sering ketemu. Kita jadi tambah akrab aja lho.
            Aku merasakan ada suatu rasa yang berbeda dari sebelumnya, sejak bertemu sama Rendy. Kali ini aku cerita dengan tenang dan tidak cepat. Kisa dan Lina tidak percaya, karena seorang seperti aku bisa jatuh cinta. ”Aku suka sama Rendy..!” kalimat itu yang keluar dari mulut kecilku.
            Rasa itu kupendam dalam hati kurang lebih enam bulan. Sejak ada rasa itu sikapku berubah drastis kepada semua orang, terutama Rendy. ”Lho kok berubah banget Din, ada apa sih?” kalimat itu sering kudengar dari teman-teman, orangtua, bahkan Rendy.
            Sekarang aku jadi sering melamun dan menyendiri. Tapi sifat cerewetku tidak hilang, melainkan tambah cerewet.
            Rasa itu rasa cinta yang sangat kuat. Tidak dapat dihilangkan lagi. Mungkin itu cinta sejati. Memang apa sih cinta sejati itu? Kaya tahu maknanya saja.
            Aku jadi sering curhat sama Lina. Sudah pasti membahas Rendy. Lina bosan dengarnya. Rendy itu keren, cakep, manis, juga hebat. Apalagi kalau lagi main gitar, wow..hebat banget! Jadi pingin diajari.
            Sayang banget, jadwal Rendy lebih padat. Jadi waktu untuk bertemu aku juga teman-temannya lebih singkat. Duh..! sungguh malang nasibku.
            Suatu hari di sekolah, salah seorang teman Kisa manggil-manggil aku seperti kesetanan. Aku langsung saja nyamperin. Ternyata cuma mastiin saja kalau namaku Dinda. Aku kesel banget, soalnya masih banyak tugas yang belum kukerjakan.
            Nanti malam tahun baru. Aku sama Lina sudah punya rencana. Aku mau nembak Rendy. Tapi Rendy punya rencana sendiri sama teman-temannya. Sial banget sih nasibku. Akhirnya aku nitip surat sama Lina untuk Rendy. Soalnya aku mau pergi ke Pekalongan.
            Surat sudah dibaca sama Rendy. Rendy tidak menyangka kalau aku suka dirinya. Langsung saja Rendy mengirim pesan singkat lewat SMS untukku ”Sorry Din, gue nggak bisa nrima loe, gue blm siap.”. Hatiku hancur berkeping-keping setelah baca pesan itu.
            Karena pesan itu pula persahabatan kita semua jadi renggang. Suatu hari aku mendengar berita bahwa Rendy suka sama seseorang. Tapi anak itu tidak suka karena sifat Rendy yang dingin. Mendengar semua itu hatiku tambah hancur.
            Setahun telah berlalu. Tepat malam valentine, aku ditembak sama seorang cowok namanya Dimas. Dia satu kelas sama aku. Aku jadi teringat tahun baru kemarin, saat aku patah hati. Lewat kertas kecil yang bertulis ”I LOVE YOU too from DIMAS”. Aku nangis tersedu.
            Dua hari setelah valentine Dimas mengutarakan cintanya padaku di depan teman-teman. Dengan jawabanku yang singkat, Dimas merasa kurang tenang. Dimas mengutus beberapa orang untuk selalu mengawasiku selama tiga hari. Baik di sekolah maupun di rumah. Bahkan saat tidur malam. Sampai yang ngawasi begadang.
            Hari kedua mata-mata Dimas tertangkap basah di sekolah sedang ngupingin aku sama Kisa curhat masalah Rendy. Mata-mata itu kuhakimi dan dia mau jujur juga. Dimas yang lagi enak makan bakso di kantin langsung aku omelin. Dimas merasa malu dan mengakui kesalahannya.
            Hari itu juga aku memberikan jawabannya. Aku sebenarnya suka sama Dimas karena terpaksa. Soalnya Dimas itu…lumayan tajirlah. Mendengar itu Dimas kegirangan dan mentraktir semua orang yang ada di kantin untuk makan sepuasnya.
Aku belum bisa menerima Dimas begitu saja. Aku masih cinta sama Rendy. Walaupun Rendy mencintai cewek lain yang lebih tajir dariku. Tidak Dimas tidak Rendy kalau mereka bertemu aku merasa malu dan pura-pura tidak tahu. Sejak aku pacaran sama Dimas tidak ada yang tahu nasib Rendy sekarang. Kita sudah tidak pernah bertemu lagi. Apalagi ngobrol bareng. Apa Rendy masih ngejar-ngejar cewek itu? Mungkin saja gitu.
*)ekspresi cinta.

0 komentar:

Posting Komentar