Sabtu, 04 Januari 2014

Lorong Dimensi (Kebahagiaan Sesaat)



Pagi ini, Reina bangun tak seperti hari biasanya. Matanya terbuka tanpa mendengar suara alarm dari handphonenya yang sebelumnya tak pernah nihil untuk membangunkan dia tiap pagi dan dilihat handphone itu masih tergeletak di samping bantal. Namun dia pikir itu tak jadi masalah, Reina pun melanjutkan tidur sembari menutupi tubuhnya dengan selimut tebal kesayangannya.

Jam menunjukkan jarinya ke pukul 12, matahari pun telah terbangun untuk menunjukkan keperkasaannya menerangi dunia ini. Namun, Reina tetaplah Reina, gadis remaja yang dilahirkan 15 tahun silam ini masih tertidur pulas seakan waktu masih jam 12 malam maklum beberapa hari lagi liburan udah abis aja.

Sejauh ini, Reina baru ngisi liburan dengan nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan berenang sama temen-temen yang super deket sama dia. Kebetulan mereka ngajak Reina renang hari Selasa kemaren dan kebetulan juga Reina belom cukup menikmati liburan dengan nonton doang.

Sedangkan Dias sengaja tidak ikut liburan bersama keluarganya, karena besok tanggal 5, Reina berulang tahun yang ke 16 tahun, dia ingin memberikan surprise untuk kekasih dambaan hatinya. Dia sudah menyiapkan semua rencana dan hadiah untuk Reina.

*SKIPTHISDAY*
Tepat jam 00.00, Dias ingin menjalankan semua rencana yang telah ia siapkan, dia akan pergi ke rumah Reina, dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Reina. Hanya Dias, Fay dan teman-temannya yang tahu.
“Re, lo lagi dimana?” kata Bayu-temannya Reina yang mencoba memastikan Reina sedang berada di rumahnya lewat telepon. Karena seharian ini, Dias sengaja tidak berkomunikasi dengan Reina, karena ini adalah bagian dari rencana yang telah ia buat.

Dias sudah menyiapkan kue tart, dan juga sudah menyalakan lilin. Segera dia dan teman-temannya menuju ke rumah Reina. Pintu rumahnya sengaja tidak dikunci oleh orangtua Reina karena Faya telah membicarakan rencana ini semua kepada mereka, segera Dias dan teman-temannya masuk tanpa permisi. Terdengar suara televisi sedang menyala di ruang tamu, itu pertanda Reina sedang berada diruang tamu itu menonton BPL.
“Happy Birthday, babe” teriakan Dias mengangetkan Reina.
“I hope that you will have a truly marvelous and joyous day with family and friends. Your sweet nature and generous heart are part of what makes you a very special person to me and so many others. I want to wish you a fantastic birthday and a year of pure happiness. You are celebrating your birthday but the rest of us are celebrating the anniversary of you arriving in the world and making it a better, happier place for us. Be proud of the wonderful life you've led so far and look forward to all the adventures yet to come your way. You are a gift to the world. Keep working hard, but not TOO hard or you'll make yourself sick! Lav you :***”
“Thankiss babyboo. I love you to infinite and beyond darling! You’re mine and I’m yours  dear :*** rupanya kamu romantis juga ya hun”, goda Reina dengan panggilan sayangnya itu.
“You’re welcome baby gurls. Ya jelaslah sayang”, jawab Dias dengan senyuman kecilnya.
“Sekali lagi terima kasih Dias untuk semuanya ini, kejutan bukanlah kado terindah untukku, tapi kamu yang mau hadir mewarnai hidupku menjadi kado terindah untukku”, ucap Reina yang tak sengaja meneteskan air matanya tan rasa haru.
*make a wish and then tiup lilin*
“Be your own light. Find your own way. It should be easy with all those candles.” Bisik Dias kemudian mencium kening Reina.
Potongan kue pertama diberikan kepada Dias, dan semuanya ikut senang.

          Kebahagiaan berganti menjadi sedih yang amat menyedihkan ketika beberapa jam kemudian Reina mendapat kabar dari temannya bahwa Dias kecelakaan setelah memberi ia surprise. Mobil Dias menabrak sebuah truk besar dan kecelakaan itu pun sangat tragis yang menyebabkan nyawa Dias tidak tertolong dan Dias pun meninggal pada pagi itu.
“Ya Tuhan.. cobaan apa lagi yang kau berikan padaku, baru saja kau memberikan kebahagiaan dan sekarang engkau mengganti kebahagiaan ku itu dengan kesedihan, engkau telah mengambil orang yang amat sangat aku sayang dan aku cintai” dalam benak Reina sambil menangis

Reina pun segera kerumah sakit untuk melihat Dias, sesampainya dirumah sakit Reina hanya menangis dan terus mengis saat melihat Dias telah ditutupi dengan seuntai kain putih. Disitu Reina memeluk Dias sangat erat seolah-olah tidak mau lepas dengannya. Keluarga Dias yang datang pun mencoba menenangkan Reina. Keesokan harinya Dias pun dimakamkan di pemakaman keluarga. Setelah pemakan itu selesai tinggal Reina diriku sendiri yang masih berada disitu. Distu Reina terus menangis sambil memegang batu nisannya. Tetapi karena keadaan sudah mau hujan akhirnya Reina pun pulang.

Selang beberapa hari kepergian Dias, pasti ada saja hal-hal ganjil yang membuat Reina risih. Kadang-kadang Reina melihat sosok mirip sekali dengan Dias, sosok itu hanya tersenyum manis dengannya, namun ketika ia mau menghampiri sosok itu tiba-tiba dia menghilang. Reina mencoba bertanya kepada orangtuanya, ternyata memang benar sosok yang sering menghantuinya itu adalah Dias. Dias cuma mau bilang sesuatu kepada Reina, Dias berkata bahwa Reina tidak boleh menangis lagi, Dias ingin melihat Reina bahagia bersama orang lain dan Dias juga berkata “jangan khawatir dengan ku, aku baik-baik saja disini, aku selalu menjagamu Reina”. Dan setelah ia tau itu semua, Reina pun mencoba untuk tidak bersedih lagi.

To be continued

0 komentar:

Posting Komentar