Pagi
ini, Reina bangun tak seperti hari biasanya. Matanya terbuka tanpa mendengar
suara alarm dari handphonenya yang sebelumnya tak pernah nihil untuk
membangunkan dia tiap pagi dan dilihat handphone itu masih tergeletak di
samping bantal. Namun dia pikir itu tak jadi masalah, Reina pun melanjutkan
tidur sembari menutupi tubuhnya dengan selimut tebal kesayangannya.
Jam
menunjukkan jarinya ke pukul 12, matahari pun telah terbangun untuk menunjukkan
keperkasaannya menerangi dunia ini. Namun, Reina tetaplah Reina, gadis remaja
yang dilahirkan 15 tahun silam ini masih tertidur pulas seakan waktu masih jam
12 malam maklum beberapa hari lagi liburan udah abis aja.
Sejauh
ini, Reina baru ngisi liburan dengan nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
dan berenang sama temen-temen yang super deket sama dia. Kebetulan mereka ngajak
Reina renang hari Selasa kemaren dan kebetulan juga Reina belom cukup menikmati
liburan dengan nonton doang.
Sedangkan
Dias sengaja tidak ikut liburan bersama keluarganya, karena besok tanggal 5, Reina
berulang tahun yang ke 16 tahun, dia ingin memberikan surprise untuk kekasih
dambaan hatinya. Dia sudah menyiapkan semua rencana dan hadiah untuk Reina.
*SKIPTHISDAY*
*SKIPTHISDAY*
Tepat
jam 00.00, Dias ingin menjalankan semua rencana yang telah ia siapkan, dia akan
pergi ke rumah Reina, dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Reina. Hanya
Dias, Fay dan teman-temannya yang tahu.
“Re, lo lagi dimana?” kata Bayu-temannya Reina yang mencoba memastikan Reina sedang berada di rumahnya lewat telepon. Karena seharian ini, Dias sengaja tidak berkomunikasi dengan Reina, karena ini adalah bagian dari rencana yang telah ia buat.
“Re, lo lagi dimana?” kata Bayu-temannya Reina yang mencoba memastikan Reina sedang berada di rumahnya lewat telepon. Karena seharian ini, Dias sengaja tidak berkomunikasi dengan Reina, karena ini adalah bagian dari rencana yang telah ia buat.
Dias
sudah menyiapkan kue tart, dan juga sudah menyalakan lilin. Segera dia dan teman-temannya
menuju ke rumah Reina. Pintu rumahnya sengaja tidak dikunci oleh orangtua Reina
karena Faya telah membicarakan rencana ini semua kepada mereka, segera Dias dan
teman-temannya masuk tanpa permisi. Terdengar suara televisi sedang menyala di
ruang tamu, itu pertanda Reina sedang berada diruang tamu itu menonton BPL.
“Happy Birthday, babe”
teriakan Dias mengangetkan Reina.
“I hope that you
will have a truly marvelous and joyous day with family and friends. Your sweet
nature and generous heart are part of what makes you a very special person to
me and so many others. I want to wish you a fantastic birthday and a year of pure
happiness. You are celebrating your birthday but the rest of us are celebrating
the anniversary of you arriving in the world and making it a better, happier
place for us. Be proud of the wonderful life you've led so far and look forward
to all the adventures yet to come your way. You are a gift to the world. Keep
working hard, but not TOO hard or you'll make yourself sick! Lav you :***”
“Thankiss babyboo.
I love you to infinite and beyond darling! You’re mine and I’m yours dear :*** rupanya kamu romantis juga ya hun”,
goda Reina dengan panggilan sayangnya itu.
“You’re welcome baby gurls. Ya jelaslah sayang”, jawab Dias dengan senyuman kecilnya.
“You’re welcome baby gurls. Ya jelaslah sayang”, jawab Dias dengan senyuman kecilnya.
“Sekali lagi terima
kasih Dias untuk semuanya ini, kejutan bukanlah kado terindah untukku, tapi kamu
yang mau hadir mewarnai hidupku menjadi kado terindah untukku”, ucap Reina yang
tak sengaja meneteskan air matanya tan rasa haru.
*make a wish and
then tiup lilin*
“Be your own
light. Find your own way. It should be easy with all those candles.” Bisik Dias
kemudian mencium kening Reina.
Potongan kue
pertama diberikan kepada Dias, dan semuanya ikut senang.
Kebahagiaan berganti menjadi sedih yang
amat menyedihkan ketika beberapa jam kemudian Reina mendapat kabar dari
temannya bahwa Dias kecelakaan setelah memberi ia surprise. Mobil Dias menabrak
sebuah truk besar dan kecelakaan itu pun sangat tragis yang menyebabkan nyawa
Dias tidak tertolong dan Dias pun meninggal pada pagi itu.
“Ya Tuhan.. cobaan apa lagi yang kau berikan padaku, baru saja kau memberikan kebahagiaan dan sekarang engkau mengganti kebahagiaan ku itu dengan kesedihan, engkau telah mengambil orang yang amat sangat aku sayang dan aku cintai” dalam benak Reina sambil menangis
“Ya Tuhan.. cobaan apa lagi yang kau berikan padaku, baru saja kau memberikan kebahagiaan dan sekarang engkau mengganti kebahagiaan ku itu dengan kesedihan, engkau telah mengambil orang yang amat sangat aku sayang dan aku cintai” dalam benak Reina sambil menangis
Reina
pun segera kerumah sakit untuk melihat Dias, sesampainya dirumah sakit Reina
hanya menangis dan terus mengis saat melihat Dias telah ditutupi dengan seuntai
kain putih. Disitu Reina memeluk Dias sangat erat seolah-olah tidak mau lepas
dengannya. Keluarga Dias yang datang pun mencoba menenangkan Reina. Keesokan
harinya Dias pun dimakamkan di pemakaman keluarga. Setelah pemakan itu selesai
tinggal Reina diriku sendiri yang masih berada disitu. Distu Reina terus
menangis sambil memegang batu nisannya. Tetapi karena keadaan sudah mau hujan
akhirnya Reina pun pulang.
Selang
beberapa hari kepergian Dias, pasti ada saja hal-hal ganjil yang membuat Reina
risih. Kadang-kadang Reina melihat sosok mirip sekali dengan Dias, sosok itu
hanya tersenyum manis dengannya, namun ketika ia mau menghampiri sosok itu
tiba-tiba dia menghilang. Reina mencoba bertanya kepada orangtuanya, ternyata
memang benar sosok yang sering menghantuinya itu adalah Dias. Dias cuma mau
bilang sesuatu kepada Reina, Dias berkata bahwa Reina tidak boleh menangis
lagi, Dias ingin melihat Reina bahagia bersama orang lain dan Dias juga berkata
“jangan khawatir dengan ku, aku baik-baik saja disini, aku selalu menjagamu Reina”.
Dan setelah ia tau itu semua, Reina pun mencoba untuk tidak bersedih lagi.
To be continued

0 komentar:
Posting Komentar